Gunung Patuha : Kisah Bujangga Manik Hingga Ekspedisi Junghuhn
| Gunung Patuha dari udara |
Gunung Patuha adalah gunung yang berada di Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Gunung yang berketinggian 2434 MDPL ini terkenal dengan keindahan kawah putihnya yang menawan. Asal nama gunung ini memiliki banyak versi. Salah satuya dipercaya Patuha berasal dari kata Pak Tua atau gunung Sepuh dalam nama lokalnya, masyarakat lokal percaya bahwa umur gunung ini sudah sangat tua dan angker.
Gunung Patuha merupakan gunung api tipe B yang muncul saat dataran tinggi Bandung masih merupakan dasar samudera yang kemudian muncul kepermukaan. Menurut catatan gunung Patuha pernah meletus sua kali, yaitu pada abad ke-10 yang melahirkan Kawah Saat (kawah yang mengering) dan pada abad ke-13 yang melahirkan kawah putih.
Sang Bujangga Manik dipercaya bertapa di gunung ini (Kawah Saat). Penulisnya adalah seorang Tohaan (pangeran) Istana Pakuan yang memilih menjadi petapa yang menjelajah Jawa dan Bali untuk memuaskan batin spiritualnya. Didalam naskah yang ditulisnya, tercantum 450 nama tempat yang terbentang dari Pakuan hingga Bali. Naskah asli tersebut kini tersimpan di Universitas Oxford. Dari teks naskah tersebutlah gunung Patuha dipercaya merupakan tempat terakhir Sang Bujangga Manik bertapa dan membangun tempat pertapaan. Berikut potongan teksnya :
Sadatang ka Mulah Mada, ngalalar ka Tapak Ratu, datang ka Bukit Patuha, ka sanghiang Ranca Goda. (Setiba di Mulah Mada, melewati Tapak Ratu, pergi ke Gunung Patuha, ke tempat suci Ranca Goda.)
Dipunar dijian batur, kapuruyan ku mandala. (Aku membangunnya kembali dan menjadikannya tempat pertapaan, yang disari oleh mandala [?].)
Di inya aing teu heubeui, satahun deung sataraban. (Di sana aku tidak tinggal terlalu lama, hanya setahun lebih.)
Sadiri aing [ti i] ti inya, sacu(n)duk ka Gunung Ratu, sanghiang Karang Carengcang. Eta hulu na Cisokan, la(n)deuhan Bukit Patuha, heuleut-heuleut Li(ng)ga Payung, nu / awas ka Kreti Haji. /25v/ (Setelah kuberangkat dari sana, sesampai di Gunung Ratu, di Karang Carengcang yang suci. yang merupakan hulu sungai Cisokan, berjalan menuruni Gunung Patuha, setengah jalan menuju Lingga Payung, yang menghadap ke Kreti Haji.)
Momogana teka waya: neumu lemah kabuyutan, na lemah ngali(ng)ga manik, teherna dek sri ma(ng)liput, ser manggung ngali(ng)ga payung, nyanghareup na Bahu Mitra. (Sungguh di sana: aku menemukan tempat suci, tempat dengan lingga bertakhta intan permata, kilapnya menutupi lingga itu (?), rising upwards, menjadi lingga payung, menghadap Bahu Mitra.)
Ku ngaing geus dibabakan, dibalay diu(n)dak-u(n)dak, dibalay sakulili(ng)na, ti ha(n)dap ku mu(ng)kal datar, ser manggung ku mu(ng)kal bener, ti luhur ku batu putih, diawuran manik. (Olehku telah dibangun tempat tinggal baru, direkatkan dalam beberapa tingkat, disambung sekelilingnya, bagian bawah beralaskan batu pipih, menghadap ke atas dari arah batu yang berdiri (?), bagian teratas oleh marmer, bertaburkan intan permata.)
| Naskah Bujangga Manik (Sumber :Wikipedia) |
Bumi berputar dan zaman beredar, gunung Patuha sejak dahulu dikenal sakral dan angker. Masyarakat sekitar tidak ada yang berani menaiki gunung ini. Konon, burungpun enggan dan akan mati apabila melewati gunung ini. Terdapat juga sekumpulan domba gaib berwarna putih, masyarakat menyebutnya domba lukutan. Kemisteriusan gunung ini menarik perhatian seorang penjelajah bernama Franz Wilhelm Junghuhn (1809-1864). Seorang Botanis kelahiran Jerman yang saat itu tinggal di Priangan untuk mengembangkan tanaman kina.
Pada tahun 1837, Junghuhn berkunjung ke Bandung Selatan dan melakukan ekspedisi dengan menembus hutan belantara ke gunung tersebut. Dalam ekspedisi tersebut, Junghuhn menemukan kawah putih yang indah dan berbau belerang menyengat. Rupanya kawah inilah yang membuat burung-burung enggan kesana. Menyadari potensi belerang, pemerintah Belanda kemudian membangun pabrik belerang bernama Zwavel Otgining Kawah Putih.
Lukisan Kawah Putih karya Junghuhn (Sumber : Wikipedia)
Kini gunung Patuha lebih dikenal sebagai objek wisata Kawah Putih dan dikelola oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat. Salah satu objek wisata yang terkenal di Bandung. Selain Kawah Putih, wisatawan juga dapat menikmati pemandangan dari Puncak Sunan Ibu dan Sunan Rama (Puncak utama). Di Sunan Ibu & Kawah Saat terdapat petilasan. Didekat gunung Patuha terdapat Kawah Rengganis, sebuah sumber air panas yang mengandung belerang. Disana terdapat beberapa situs yang dipercaya juga sebagai peninggalan Sang Bujangga Manik.
Saya berkesempatan menjelajah gunung Patuha pada 9 Desember 2023 via Cipanganten. Perjalanan dimulai jam 6 pagi dari Cimahi. Kami sampai sekitar jam 8 kurang ditempat biasanya pendaki menitipkan motor. Tempatnya ada didepan Masjid Cipanganten. Dari situ kami melewati perkebunan warga hinga hutan. jalannya lumayan curam tapi masih ramah dikaki. Terdapat juga pita-pita yang diikatkan keranting sebagai tanda disepanjang jalan. Kemudian kami sampai di perkebunan teh dan belok kiri kearah hutan menuju Sunan Ibu. Kami sampai disana setelah 2 jam perjalanan.
![]() |
| Kawah Putih saat menuju Sunan Ibu |
Perjalanan kami lanjutkan menuju Sunan Rama. Kami disambut dengan pemandangan pepohonan kering dan tanaman pakis yang besar. Kami sampai di puncak gunung (Sunan Rama) dalam 1 jam (total perjalanan 3 jam). kami bisa melihat kawah saat dan situs petilasan Bujangga Manik yang dikeramik putih. Tak terasa hari sudah siang dan langit kian mendung. Hujan turun beserta gemuruh petir, kami memakai jas hujan dan turun. Sebuah perjalanan yang tak terlupakan.
![]() |
| Suasana disekitar Kawah Putih saat menuju Sunan Rama |
![]() |
| Sunan Ibu |
Sekian, terima kasih.



Komentar
Posting Komentar