Postingan

Gunung Patuha : Kisah Bujangga Manik Hingga Ekspedisi Junghuhn

Gambar
Gunung Patuha dari udara Gunung Patuha adalah gunung yang berada di Rancabali, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Gunung yang berketinggian 2434 MDPL ini terkenal dengan keindahan kawah putihnya yang menawan. Asal nama gunung ini memiliki banyak versi. Salah satuya dipercaya Patuha berasal dari kata Pak Tua atau gunung Sepuh dalam nama lokalnya, masyarakat lokal percaya bahwa umur gunung ini sudah sangat tua dan angker. Gunung Patuha merupakan gunung api tipe B yang muncul saat dataran tinggi Bandung masih merupakan dasar samudera yang kemudian muncul kepermukaan. Menurut catatan gunung Patuha pernah meletus sua kali, yaitu pada abad ke-10 yang melahirkan Kawah Saat (kawah yang mengering) dan pada abad ke-13 yang melahirkan kawah putih. Sang Bujangga Manik dipercaya bertapa di gunung ini (Kawah Saat). Penulisnya adalah seorang Tohaan (pangeran) Istana Pakuan yang memilih menjadi petapa yang menjelajah Jawa dan Bali untuk memuaskan batin spiritualnya. Didalam naskah yang ditulisnya...

Babat Alas & Asal Mula Pemukiman di Pacitan

Gambar
  Sawahs bij Patjitan (Koleksi KITLV) Sebelum menjadi pemukiman, wilayah pegunungan disepanjang pantai selatan Jawa masih berupa hutan belantara dan belum pernah dijamah manusia. Orang-orang yang pergi kesana hanyalah orang-orang yang ingin bertapa seperti ke Gua Kalak, Gua Sampura, Gunung Limo, dan Astana Gentong. Daerah tersebut masih termasuk dalam daerah kekuasaan Adipati Batoro Katong dari Ponorogo.  Pada masa Adipati Batoro Katong di Ponorogo, terdapat seseorang yang dari Demak yang ingin membuka hutan tersebut untuk dijadikan pemukiman. Ialah Kiai Siti Geseng dan anak istrinya. Setelah diijinkan sang adipati, Beliau tiba ditempat yang disukainya dan menancapkan bambu petung sebesar gagang sabit dan mulai membuka hutan disana. Tempat itu adalah desa Ngrejoso. Kemudian hari Kyai Siti Geseng disebut dengan nama Kyai Petung. Tokoh lain yang ikut membuka hutan adalah Syekh Maulana Maghribi yang membuka hutan di Duduwan. Keduanya saling berkunjung, Terdapat tokoh lain yang me...

Cerita Pantai Ngobaran : Nyi Roro Kidul masuk Islam?

Gambar
 Diapit oleh tebing-tebing karang yang mempesona, dengan pasir yang putih bersih dan biota laut yang dapat dilihat dari cekungan karang saat air laut surut. Begitulah kira-kira gambaran Pantai Ngobaran di Desa Kanigoro, Gunung Kidul, DI Yogyakarta. Keunikan pantai ini terletak pada adanya pura dan mushola yang cukup unik dan mungkin hanya ada satu di dunia. kira-kira keunikan apakah itu? Cerita ini bermula pada November 2023. Teman kuliahku mengajaku untuk berwisata kepantai di Gunung Kidul. Aku yang pada dasarnya besar di Pacitan sudah cukup kenyang berwisata kepantai. Namun, ajakan tersebut kuiyakan, sekalian "hiling" kalau kata anak muda. Lumayan untuk mengisi minggu tenang UAS. Kami berangkat jam 6 pagi dan tiba disana pukul 09.30. Mataku langsung terfokus pada bangunan pura disana. Ternyata pantai ini ada hubungannya dengan kisah Prabu Brawijaya, raja terakhir Majapahit.  Aku yang penasaran akhirnya googling. Ternyata nama Ngobaran berasal dari cerita pelarian Prabu ...

Kisah Jayaniman menjadi Bupati Pacitan

Gambar
Jayaniman, dalam Babad Pacitan Ia terkenal berani dan berkepribadian luhur, berkumis tebal dan mempunyai sepuluh anak. Ia merupakan keturunan Ki Buwana Keling, yaitu penguasa Buddha terakhir di Pacitan yang dikalahkan oleh para wali muslim. Pada saat sekarat, Ki Buwana Keling meramalkan bahwa keturunannya kelak akan menjadi penguasa di daerah ini. Pada masa bupati Pacitan yang pertama. R. T. Setrawijaya, para ahli nujum memperingatkan bupati baru ini sebab dinastinya tidak akan bertahan lama karena Jayaniman kelak akan menjadi bupati di Pacitan. Tak tinggal diam, Setrawijaya memanggil Jayaniman dan menjadikannya modin dan guru agama di desa Tanjung. Hal ini dilakukan untuk menjauhkan Jayaniman dari politik. Namun rencana ini gagal pada masa penjajahan Inggris (1811-1816), daerah Pacitan disewakan untuk pertahanan dan perdagangan. Pihak Inggris ditemani Pangeran Mangkunegara pergi ke Pacitan. Kedatangan mereka membuat bupati Pacitan saat itu, RadenTumenggung Setrawijaya panik karen...

Pacitan saat Perang Diponegoro

Gambar
  Perang Diponegoro atau Perang Jawa merupakan perang besar yang terjadi pada tahun 1825-1830, perang ini disebabkan oleh ketidakpuasan di semua kalangan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah Belanda di bidang politik dan ekonomi. Sesuai namanya, Perang ini dipimpin oleh Pangeran Diponegoro dan menjadi perang terbesar dan terakhir yang dihadapi Belanda di Jawa. Ketika berita terjadinya perang sampai di Pacitan pada 1825. Bupati Jagakarya I pergi ke Yogyakarta untuk bertemu Patih Danureja untuk mengatur agar putra ketiganya diangkat  menjadi penggantinya kelak. Sebagai imbalan, Bupati Jagakarya I akan memberi dukungan untuk melawan pasukan Diponegoro.  Namun putra tertuanya ternyata sudah mempengaruhi Patih Yogyakarta terlebih dahulu untuk mengangkatnya sebagai bupati dengan gelar Mas Tumenggung Jayanagara.  Dalam Babad Pacitan diceritakan,  Pacitan mulai bergejolak.  Seorang guru,  Kyai Bagor bergabung dengan Diponegoro. Kemudian Kepala Desa Gedanga...